menelaah struktur dan kaidah kebahasaan teks drama

C Menelaah Struktur dan Kaidah Kebahasaan Teks Drama D. Menulis Teks Drama Bab 9 Kembangkan Kegemaran Membaca A. Menggali Informasi dalam Buku Fiksi dan Nonfiksi B. Menyajikan Peta Konsep dari Isi Buku Fiksi/Nonfiksi C. Menelaah Unsur-Unsur Penting dalam Buku Fiksi dan Nonfiksi 310 menelaah struktur dan kebahasaan puisi rakyat pantun, syair, dan bentuk puisi rakyat setempat) yang dibaca dan didengar Indikator : - Menyimpulkan variasi pola pengembangan isi pantun - Menyimpulkan prinsip penggunaan kata/kalimat pada pantun - Melengkapi puisi rakyat (pantun) sesuai struktur dan kaidah bahasa serta menelaahnya 1 menafsirkan kembali isi teks drama 3.16 Menelaah karakteristik unsur dan kaidah kebahasaan dalam teks drama yang berbentuk naskah atau pentas. Indikator: 1. menentukan struktur teks drama 2. menentukan kaidah kebahasaan teks drama 4.16 Menyajikan drama dalam bentuk pentas atau naskah Indikator: 1. menyusun teks drama berdasarkan ilustrasi menelaahkarakteristik dan kaidah kebahasaan dalam reks drama. menginterprerasi drama yang dibaca dan ditonton. mementaskan drama sesuai naskah yang ditulis. A. Mendalami Unsur-Unsur Drama. Teks drama adalah penggambaran kehidupan dan watak manusia melalui akting yang dipentaskan. Ciri utama drama adalah berupa cerita, berbentuk dialog, dan Selainmengikuti struktur teks, untuk membuat teks ulasan juga harus menggunakan kaidah kebahasaan atau penulisan yang baik. Berikut ini kaidah kebahasaan teks ulasan: 1. Istilah. Istilah merupakan sebuah gabungan kata yang mengungkapkan suatu arti tertentu dari sebuah proses, keadaan, konsep, ataupun sifat tertentu. Les Meilleurs Sites De Rencontre En Belgique. - Berbeda dengan karya sastra lainnya, drama mempertimbangkan banyak hal berkaitan dengan penyajiannya di atas panggung. Andri Wicaksono dalam Kreatif Menulis Sastra 2014 berpendapat, dibanding genre karya sastra lainnya novel, cerpen, dan puisi, drama memiliki keunikan tersendiri. Penulis naskah drama menyusun cerita sedemikian rupa agar penonton dapat memahami alur dengan jelas. Alur disusun secara sistematis demi mendapat apresiasi yang baik dari drama Struktur dalam drama menjadi penting dalam kita mempelajari tentang drama. Berikut merupakan struktur yang ada dalam drama 1. Babak atau episode Penulis naskah drama biasa membedakan babak satu dengan babak lainnya berdasarkan susunan alur cerita dalam drama atau susunan waktu. Pembagian babak atau episode adalah bagian penting dalam sebuah drama. Ia sebagai penanda susunan alur, sehingga mempermudah pembaca memahami cerita yang hendak disampaikan. Baca juga Pengertian dan Karakteristik Drama2. Adegan Runtutan cerita dalam drama dibagi dalam babak dan adegan. Adegan ditandai dengan pemunculan tokoh atau pergantian suasana. Pergantian suasana tersebut dapat diiringi dengan pergantian tata panggung, tata cahaya, properti panggung, atau perubahan sikap tokoh. 3. Dialog Dialog adalah pembeda drama dengan karya sastra lainnya. Menurut Herman J. Waluyo dalam Drama Teori dan Pengajarannya 2006, dalam menyusun dialog ini pengarang harus benar-benar memperhatikan pembicaraan tokoh-tokoh dalam kehidupan sehari-hari. Dialog berguna untuk menggiring tokoh dalam konflik. Dialog dapat membangun ekspresi, emosi, pemikiran, pembentukan karakter, bahkan motivasi gerakan yang dilakukan oleh pemeran. Dialog terjadi karena percakapan antara dua tokoh atau lebih yang terdapat dalam drama. Sementara percakapan dengan satu tokoh disampaikan dalam bentuk monolog. Monolog merupakan percakapan atau narasi yang disampaikan oleh satu tokoh, tanpa ada balasan dari tokoh lain. Menelaah Struktur dan Kaidah Kebahasaan Teks Drama Setelah mempelajari materi ini, kamu diharapkan mampu Menelaah karakteristik stuktur dan kaidah kebahasaan dalam teks drama yang berbentuk naskah atau pentas. 1. Struktur Teks Drama Struktur drama yang berbentuk alur pada umumnya tersusun sebagai berikut. a. Prolog merupakan pembukaan atau peristiwa pendahuluan dalam sebuah drama atau sandiwara. Bagian ini biasanya disampaikan oleh tukang cerita dalang untuk menjelaskan gambaran para pemain, gambaran latar, dan sebagainya. b. Dialog merupakan media kiasan yang melibatkan tokoh-tokoh drama yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak manusia, problematika yang dihadapi, dan cara manusia dapat menyelesaikan persoalan hidupnya. Di dalam dialog tersaji urutan peristiwa yang dimulai dengan, orientasi, komplikasi, sampai dengan resolusi. 1 Orientasi, adalah bagian awal cerita yang menggambarkan situasi yang sedang sudah atau sedang terjadi. 2 Komplikasi, berisi tentang konflik-konflik dan pengembangannya gangguan-gangguan, halangan-halangan dalam mencapai tujuan, atau kekeliruan yang dialami tokoh utamanya. Pada bagian ini pula dapat diketahui watak tokoh utama yang menyangkut protagonist dan antagonisnya. 3 Resolusi, adalah bagian klimaks turning point dari drama, berupa babak akhir cerita yang menggambarkan penyelesaian atas konflik- konflik yang dialami para tokohnya. Resolusi haruslah berlangsung secara logis dan memiliki kaitan yang wajar dengan kejadian sebelumnya. c. Epilog adalah bagian terakhir dari sebuah drama yang berfungsi untuk menyampaikan inti sari cerita atau menafsirkan maksud cerita oleh salah seorang aktor atau dalang pada akhir cerita. 2. Kaidah Kebahasaan Drama Sebagaimana yang tampak pada contoh drama tersebut kalimat-kalimat yang tersaji di dalam teks drama hampir semuanya berupa dialog atau tuturan langsung para tokohnya. Kalimat langsung dalam drama lazimnya diapit oleh dua tanda petik ”....”. Teks drama menggunakan kata ganti orang ketiga pada bagian prolog atau epilognya. Karena melibatkan banyak pelaku tokoh, kata ganti yang lazim digunakan adalah mereka. Lain halnya dengan bagian dialognya, yang kata gantinya adalah kata orang pertama dan kedua. Mungkin juga digunakan kata-kata sapaan. Seperti yang tampak pada contoh teks drama tersebut bahwa kata-kata ganti yang dimaksud adalah aku, saya, kami, kita, kamu. Adapun kata sapaan, misalnya, anak-anak, ibu. Sebagaimana halnya percakapan sehari-hari, dialog dalam teks drama juga tidak lepas dari munculnya kata-kata tidak baku dan kosakata percakapan, seperti kok, sih, dong, oh. Di dalamnya juga banyak ditemukan kalimat seru, suruhan, pertanyaan. Perhatikan contoh berikut! 1. Selamat pagi, Anak-anak! 2. Selamat pagi, Buuuuuu! 3. Wah...jangan marah dong, aku kan cuma bercanda! 4. Arga, kenapa sih kamu selalu usil? 5. Kenapa kamu selalu mengejek aku? 6. Memangnya kamu suka kalau diejek? 7. Aduh...maaf deh! Kamu marah ya, In? Selain itu, teks drama memiliki ciri-ciri kebahasaan sebagai berikut. 1 Banyak menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu konjungsi temporal, seperti sebelum, sekarang, setelah itu, mula-mula, kemudian. 2 Banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi, seperti menyuruh, menobatkan, menyingkirkan, menghadap, beristirahat. 3 Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh, seperti merasakan, menginginkan, mengharapkan, mendambakan, mengalami. 4 Menggunakan kata-kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana. Kata-kata yang dimaksud, misalnya, ramai, bersih, baik, gagah, kuat. Di artikel ini, kita akan membahas mengenai teks drama. Mulai dari pengertian, ciri, serta unsur-unsur, struktur drama hingga kaidah kebahasaan serta contohnya. Yuk kita belajar hari ini! — Kamu pernah menonton drama di teater atau di sekolahmu? Jika pernah, kamu pasti tahu, kalau pertunjukan drama memerlukan sebuah teks agar pementasannya dapat berjalan lancar. Kira-kira apa, ya, yang dimaksud dengan teks drama? Pengertian Drama Sebelum membahas tentang pengertian teks drama, kamu bisa melihat dari asal usul katanya. Secara etimologis, drama berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang artinya berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi. Drama juga berarti perbuatan atau tindakan. Bisa disimpulkan, drama adalah sebuah cerita atau kisah yang menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku tokoh dan dialog yang dipentaskan. Drama merupakan genre karya sastra yang menggambarkan kehidupan manusia dengan gerak. Drama menggambarkan realita kehidupan, watak, serta tingkah laku manusia melalui peran dan dialog yang dipentaskan. Kisah dan cerita dalam drama memuat konflik dan emosi yang secara khusus ditujukan untuk pementasan teater. Naskah drama dibuat sedemikian rupa sehingga nantinya dapat dipentaskan untuk dapat dinikmati oleh penonton. Pengertian Teks Drama Drama adalah kisah kehidupan manusia yang dipentaskan berdasarkan naskah dengan menggunakan percakapan, gerak laku, unsur pendukung serta disaksikan oleh penonton. Nah, teks atau naskah drama adalah cerita yang dipentaskan di atas panggung yang mengisahkan kehidupan para tokohnya dengan alur sedemikian rupa. Baca juga Perbedaan Buku Fiksi dan Non Fiksi dari Ciri, Struktur, dan Contohnya Ciri-ciri Drama Teks drama memiliki beberapa ciri yang membedakan dengan teks lainnya, yaitu Disampaikan dalam bentuk dialog dan monolog. Memiliki tokoh atau karakter yang diperankan dengan riasan, aksen, atau penampilan tertentu. Terdapat konflik atau ketegangan yang menjadi inti dari cerita drama. Pementasan drama biasanya dilakukan di atas panggung yang telah dilengkapi beberapa perlengkapan dan peralatan properti untuk menghidupkan suasana. Pertunjukan drama selalu dilakukan dihadapan penonton karena drama tersebut merupakan sarana hiburan. Dalam pementasannya, teks drama didukung dengan musik dan pencahayaan. Durasi pementasan teks drama berlangsung kurang lebih 3 jam. Unsur-unsur Drama Teks drama mengandung beberapa unsur di dalamnya. Apa saja sih? Yuk, simak rincian masing-masing unsur dari teks drama! 1. Tema Hal pertama dan yang terpenting dari sebuah drama, adalah tema. Tema merupakan gagasan utama yang menjalin struktur isi drama. Tema berkaitan dengan proses jalan cerita sebuah drama. Beberapa contoh tema drama antara lain, kemanusiaan, nasionalisme, kasih sayang, persahabatan, dan sebagainya. Jadi, sebuah drama disampaikan akan bergantung dari tema drama tersebut dipilih oleh penulisnya. 2. Latar Setelah tema sudah ditentukan, kemudian unsur teks drama selanjutnya adalah latar drama tersebut. Latar adalah keterangan mengenai tempat, waktu, dan suasana di dalam cerita. Jadi, latar berkaitan dengan peristiwa yang terjadi di dalam drama, bukan berkaitan dengan penonton maupun persiapan drama. 3. Tokoh Selanjutnya mengenai tokoh. Tokoh adalah pelaku yang ada dalam cerita. Tokoh menjadi pemegang peran yang bertindak untuk menjalankan cerita. 4. Penokohan Selanjutnya, penulis drama harus menetapkan penokohan dalam teks drama. Penokohan, yaitu sifat atau watak seseorang ketika memerankan suatu cerita. Nah, terdapat tiga jenis penokohan dalam drama. Tokoh protagonis atau tokoh utama. Tokoh antagonis, yaitu tokoh penentang protagonis. Tokoh tritagonis, yaitu tokoh pendukung cerita. 5. Dialog Dialog adalah percakapan antara dua tokoh atau lebih dalam sebuah drama. Bagian ini merupakan unsur yang penting untuk ada dalam sebuah teks drama, khususnya pada drama yang adegannya terdapat percakapan diantara para tokohnya. 6. Babak Selanjutnya, adalah babak. Babak merupakan bagian dari lakon drama. Dalam satu lakon atau pementasan, terdiri dari satu atau beberapa babak. Babak disebut juga episode, yaitu kumpulan beberapa adegan. 7. Konflik Konflik adalah ketegangan atau pertentangan dalam drama yang ditandai dengan adanya masalah. Pertentangannya terjadi pada satu tokoh atau antara satu tokoh dengan tokoh lain. Konflik ini relatif dibutuhkan, karena pada dasarnya sebuah cerita pasti memiliki tujuan atau pesan tertentu yang ingin disampaikan. Konflik atau masalah dapat mengantarkan sebuah pesan tersebut dalam alur cerita di dalam sebuah drama. 8. Amanat Amanat adalah simpulan tentang ajaran atau pesan moral yang terdapat dalam drama. Amanat bersifat ajaran moral dan mendidik. Oh iya, sebuah drama dapat memiliki lebih dari satu amanat, lho! Baca juga Pengertian Teks Inspirasi, Ciri, Struktur, dan Contohnya Struktur Drama Tak seperti teks lain, naskah drama mempunyai 3 struktur penting, yakni prolog, dialog, dan epilog. Berikut penjelasan dan contohnya! 1. Prolog Prolog merupakan bagian yang berupa kata-kata pembuka, pengantar, ataupun latar belakang yang biasanya disampaikan oleh dalang atau narator, bahkan bisa juga oleh tokoh tertentu. Contoh prolog tentang drama kisah kehidupan adalah sebagai berikut. “Dikisahkan dalam sebuah rumah sederhana, terdapat keluarga yang sangat berbahagia. Rumah tersebut dihuni oleh Ayah, Ibu, dan dua orang anaknya.” 2. Dialog Dialog merupakan percakapan yang melibatkan antartokoh yang dapat menggambarkan kehidupan, watak dan konflik yang dialami manusia beserta cara menyelesaikannya. Umumnya, dialog pada naskah drama berisi 4 bagian Orientasi Bagian awal cerita yang berisi gambaran situasi yang sedang atau sudah terjadi. Komplikasi Bagian pengembangan cerita yang berisi masalah yang dihadapi tokoh-tokoh di dalam drama. Resolusi Bagian akhir dalam drama yang berisi penyelesaian masalah. Koda Akhir cerita atau ending. 3. Epilog Epilog merupakan kata-kata penutup yang berupa simpulan maupun amanat tentang keseluruhan isi dialog yang biasanya disampaikan oleh dalang atau narator. Kaidah Kebahasaan Teks Drama Kaidah kebahasaan adalah aturan-aturan yang digunakan dalam membentuk kata dan kalimat sebagai ciri ataupun pembeda dengan jenis teks lainnya. Dalam naskah drama, terdapat 8 kaidah kebahasaan yang perlu kalian ketahui Berupa dialog Menggunakan tanda petik pada dialog Menggunakan kata ganti orang ketiga pada bagian prolog atau epilog dia, beliau, ia, -nya Menggunakan kata ganti orang pertama dan kedua pada bagian dialog aku, saya, kami, kita, kamu Banyak menggunakan konjungsi temporal sebelum, sekarang, setelah itu, mula-mula, kemudian Banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu peristiwa menyuruh, menobatkan, menyingkirkan, menghadap, beristirahat Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh merasakan, menginginkan, mengharapkan, mendambakan, mengalami Menggunakan kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana ramai, bersih, baik, gagah, kuat Contoh Teks Drama Belajar Online dari Rumah Selama wabah Covid-19 melanda negara kita, maka tidak ada siswa yang belajar di sekolah. Semua pembelajaran menjadi online dan tidak tatap muka. Ada dua anak yang bersahabat sejak kecil yang bernama Rani dan Mira. Sebelum Covid mereka selalu bersama, namun sekarang terpisah dan tidak bertemu tatap muka. Karena mereka berdua telah kelas 12, mereka pun membicarakan akan kuliah kemana mereka setelah lulus SMA nanti. Rani “Ngomong-ngomong, kamu mau kuliah dimana, Mira?”Mira “Aku mau kuliah di UI.”Rani “Memangnya kamu ambil jurusan apa ?Mira “Hukum. Mau jadi pengacara…hehehe.. hmmm tapi…”Rani “Tapi kamu kenapa?”Mira “Aku lemah di pembelajaran online seperti sekarang. Aku lebih paham jika dijelaskan secara tatap muka. Apalagi kalau pelajaran hitung-hitungan seperti Matematika”Rani “Duh jangan sedih dong udah enggak apa-apa. Kalau kamu belajar lebih giat lagi pasti kamu bisa. Teruslah berusaha, Jangan menyerah. Kejar cita-cita kamu. Eits tapi jangan lupa kalau sudah usaha, kita juga harus tetap berdoa.”Mira “Iya, makasih ya atas masukannya pasti aku bakal belajar lebih giat lagi.”Rani “Nah gitu dong.”Mira “Kalau kamu? mau kuliah di mana?”Rani “Aku belum tau. Kira-kira menurut kamu di mana ya? Terus jurusan apa?” Mira “Kalau menurut aku sih lebih baik kamu ikuti kata hati kamu aja. Pastinya yang sesuai sama bakat dan minat kamu juga.”Rani “Iya sih. Tapi masalahnya aku belum tau nih bakat aku di mana.”Mira “Ya kalau menurut aku sih bakat kamu sebaiknya minta pendapat ke orang lain tentang bakat kamu. Misalnya ke teman, ke guru, ke orang tua juga pasti. Terus kalau kamu masih bingung juga, aku sarankan kamu untuk minta petunjuk pada Yang Maha Esa. Ya dengan berdoa lah.”Rani “Wah makasih juga ya, atas pendapat dan saran kamu. Aku akan coba ikuti saran kamu. Oh iya udah sore nih. Aku pulang ya. Makasih Mira.”Mira “Oh iya udah. Sama-sama. Makasih ya Rani. Dan setelah perbincangan tadi, mereka berdua menjadi lebih giat belajar lagi. Pembelajaran online saat ini menuntut para siswa untuk lebih mandiri dan tidak bergantung pada guru di sekolah. — Itu dia, Brainies, serba serbi pengertian, ciri, unsur, struktur, dan kaidah kebahasaan hingga contoh drama yang baru saja kamu baca. Semoga bisa menambah pengetahuan kamu, ya! Kalau ada pertanyaan, tulis di kolom komentar atau tanya langsung ke STAR Master Teacher di Brain Academy. Referensi Suherli dkk. 2017. Bahasa Indonesia untuk SMA/MA Kelas 11. Jakarta Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud. Oleh Nolilita, Guru SMPN Binaan Khusus, Kota Dumai, Riau - Sebuah teks yang menceritakan kisah atau cerita yang dirangkai melalui dialog untuk dibawakan melalui seni peran atau akting sehingga dapat menggambarkan cerita dan berbagai peristiwa kehidupan yang disajikan dalam suatu pentas disebut dengan drama. Sedangkan menurut etimologi, istilah dari sebuah drama itu bearasal dari bahasa Yunani yaitu draomai, yang memiliki makna sebagai yang berbuat, berlaku, bertindak, dan beraksi. Berdasarkan sejarah kata tersebut, teks drama merupakan suatu perbuatan atau tindakan yang ditulis dan selanjutnya digunakan dalam pementasan di sebuah panggung. Namun, secara luas drama dapat diartikan sebagai bentuk karya sastra yang mana isinya menyangkut kehidupan yang disajikan atau ditampilkan dalam bentuk itu drama membutuhkan komunikasi, situasi, dan tindakan yang berkualitas tinggi. Kualitas dapat dilihat secara keseluruhan dan bagaimana konflik atau masalah muncul dalam drama. Baca juga Dialog Pengertian dan Alurnya dalam Drama Karakteristik teks drama Sebagai salah karya sastra yang ada di Indonesia, karya sastra drama memang memiliki perbedaan dengan karya sastra lainnya, karakteristik yang dimiliki drama sebagai berikut. Drama berisikan dialog yang dapat dipercakapkan oleh aktor atau lakon teater. Drama berisikan cerita atau kisah yang dinarasikan dan yang disampaikan melalui dialog atau antartokoh. Untuk bagian teks drama berisi instruksi khusus yang harus dijiwai oleh para tokoh, seperti, menyesuaikan ekspresi marah atau senang, melakukan tindakan berlari / melompat, dan lain-lain. Karena drama hanya menggunakan dialog sebagai isinya, tanda petik “…” tidak diperlukan untuk penulisan dialog. Struktur teks drama Ada beberapa struktur ini disusun secara sistematis dan diperhatikan dalam teks drama yang dapat dipertimbangkan dalam proses kreatif menulis teks drama yaitu Prolog Pada bagian ini penulis mengacu pada kalimat atau pembukaan cerita dan pengantar atau latar belakang cerita. Umumnya meliputi, pengenalan tokoh, pernyataan situasi dan cerita dari awal, konflik yang akan diceritakan dalam cerita yang akan diceritakan dalam drama. 218 Kelas VIII SMPMTs Agra ”In…. Lirih Maakan aku, ya. Aku sering nggangguin kamu, Gendis, Anggun, dan teman-teman yang lain.” Gendis ”Makanya kamu jangan suka ngerjain orang, apalagi mengolok-olok kekurangan mereka. Jangan suka meremehkan anak perempuan. Nyatanya, kamu membutuhkan mereka juga, kan?” Agra ”Iya deh, aku janji nggak akan ngerjain kalian lagi.” Arga betul-betul menepati janjinya. Sejak kejadian itu, ia tak pernah mengganggu teman-temannya lagi. Arga pun jadi punya banyak sahabat, termasuk Inka dan Gendis. Mereka sering mengerjakan PR dan belajar bersama. Agra Bicara sendiri ”Ternyata kalau aku nggak nakal, sahabatku tambah banyak,” pikir Arga. ”Ternyata juga, punya banyak sahabat itu menyenangkan. Kalau mereka ulang tahun kan aku jadi sering ditraktir, hihihi….” Adaptasi dari cerpen ”Kena Batunya”, Veronica Widyastuti 2. Kaidah Kebahasaan Drama Sebagaimana yang tampak pada contoh drama tersebut kalimat-kalimat yang tersaji di dalam teks drama hampir semuanya berupa dialog atau tuturan langsung para tokohnya. Kalimat langsung dalam drama lazimnya diapit oleh dua tanda petik ”....”. Teks drama menggunakan kata ganti orang ketiga pada bagian prolog atau epilognya. Karena melibatkan banyak pelaku tokoh, kata ganti yang lazim digunakan adalah mereka. Lain halnya dengan bagian dialognya, yang kata gantinya adalah kata orang pertama dan kedua. Mungkin juga digunakan kata-kata sapaan. Seperti yang tampak pada contoh teks drama tersebut bahwa kata-kata ganti yang dimaksud adalah aku, saya, kami, kita, kamu. Adapun kata sapaan, misalnya, anak-anak, ibu. Sebagaimana halnya percakapan sehari-hari, dialog dalam teks drama juga tidak lepas dari munculnya kata-kata tidak baku dan kosakata percakapan, seperti 219 Bab 8 Bahasa Indonesia kok, sih, dong, oh. Di dalamnya juga banyak ditemukan kalimat seru, suruhan, pertanyaan. Perhatikan contoh berikut 1. Selamat pagi, Anak-anak 2. Selamat pagi, Buuuuuu 3. Wah…jangan marah dong, aku kan cuma bercanda 4. Arga, kenapa sih kamu selalu usil? 5. Kenapa kamu selalu mengejek aku? 6. Memangnya kamu suka kalau diejek? 7. Aduh…maaf deh Kamu marah ya, In? Selain itu, teks drama memiliki ciri-ciri kebahasaan sebagai berikut. 1 Banyak menggunakan kata yang menyatakan urutan waktu konjungsi temporal, seperti sebelum, sekarang, setelah itu, mula-mula, kemudian. 2 Banyak menggunakan kata kerja yang menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi, seperti menyuruh, menobatkan, menyingkirkan, menghadap, beristirahat. 4 Banyak menggunakan kata kerja yang menyatakan sesuatu yang dipikirkan atau dirasakan oleh tokoh, seperti merasakan, menginginkan, mengharapkan, mendambakan, mengalami. 5 Menggunakan kata-kata sifat untuk menggambarkan tokoh, tempat, atau suasana. Kata-kata yang dimaksud, misalnya, ramai, bersih, baik, gagah, kuat. sumber 220 Kelas VIII SMPMTs Kegiatan 1. Cermatilah kaidah atau itur-itur kebahasaan yang ada pada salah satu teks drama pada pelajaran sebelumnya. 2. Bersama empat orang teman, catatlah kaidah-kaidah kebahasaan yang menandai teks drama tersebut Judul drama . . . . Kaidah Kebahasaan AdaTidak Ada Keterangan Kutipan Teks a. Kalimat langsung b. Kata ganti c. Kata tidak baku d. Kosakata percakapan e. Konjungsi temporal f. Kata kerja g. Kata sifat h. Kalimat seru i. Kalimat perintah j. Kalimat tanya 3. Sajikanlah hasil pengamatan kelompokmu itu pada karton manila atau kertas post-it. 4. Pajanglah hasilnya pada papan tulis atau pada dinding kelas dengan perekat yang tidak mengotorinya. 5. Mintalah kelompok lain untuk secara bergiliran mengomentari hasil kerja kelompokmu itu berdasarkan kelengkapan, ketepatan, dan kerapian dalam penyajiannya. Bagaimana tanggapanmu dengan komentar-komentar mereka itu, menerimakah? Jendela Bahasa Kalimat Tanya Kalimat tanya introgatif adalah kalimat yang isinya menanyakan sesuatu atau seseorang. Kalimat tanya digunakan ketika ingin mengetahui barang, orang, waktu, tempat, cara, dan yang lainnya. 221 Bab 8 Bahasa Indonesia Perhatikan contoh penggunaannya dalam penggalan wacana di bawah ini. 1 Di antara kerumunan muncullah seorang lelaki muda mendekati ibu tadi lalu berjongkok. 2 ”Ibu mau pergi ke mana?” 3 ”Aku mau pulang,” katanya dengan nada lemah. 4 ”Pulang ke mana?” 5 ”Sebenarnya aku sudah mengunjungi rumah kakakku, tetapi tidak ada di rumah.” 6 ”Memangnya rumah ibu di mana?” 7 ”Rumahku jauh di Garut. Eh, ehm… anu.” 8 ”Ada apa Bu?” 9 ”Be… be… begini, Jang.” 10 ”Aku butuh uang untuk ongkos pulang.” 11 ”Uangku habis bahkan untuk membeli minum pun tidak ada.” Sumber Cerpen “Ibuku Sayang, Ibuku Malang” oleh Lina Budiarti. Kalimat tanya dinyatakan dengan kalimat nomor 2, 4, 6, dan 8. Selain ditandai oleh tanda tanya ?, kalimat itu disertai dengan kata tanya mana dan apa. Meskipun demikian, kalimat tanya ada pula yang tidak disertai dengan kata tanya. Perhatikan contoh sebagai berikut. a. Kak Alam sudah kuliah? b. Ini rumah Pak Kosasih? c. Tadi malam hujan, ya? Kalimat tanya pun banyak sekali ragamnya. Ada yang disebut dengan kalimat tanya retoris, kalimat tanya yang hanya memerlukan jawaban ”ya” atau ”tidak”, kalimat tanya yang memiliki tujuan selain bertanya. Berikut contoh-contohnya a. Kalimat tanya yang hanya memerlukan jawaban ya atau tidak. Kalimat ini biasa digunakan untuk tujuan klariikasi atau meminta kepsatian. Contoh 1 Jadi, betul para petani di sini mengalami gagal panen? 2 Katanya Anda mau menanam sayur-sayuran di lahan ini? 222 Kelas VIII SMPMTs b. Kalimat tanya yang tidak memerlukan jawaban. pertanyaan retoris Contoh 1 Petani mana yang tidak ingin untung dari usahanya? 2 Siapa sih yang berharap usahanya merugi terus? c. Kalimat tanya yang memiliki tujuan selain bertanya. Dari segi tujuannya kalimat ini serupa dengan kalimat perintah. Kalimat itu sesungguhnya berisikan suruhan, permintaan, ajaan, rayuan, sindiran, sanggahan. Contoh 1 Mau tidak kamu mengambil benih itu di rumah Pak Lurah? permintaan, suruhan. 2 Kamu mau kan bekerja di kebun saya? ajakan 3 Masa seorang petani sekadar untuk menanam padi pun tidak bisa? sindiran D. Menulis Teks Drama

menelaah struktur dan kaidah kebahasaan teks drama